propsdown:


credit to heather hogan and rophy on AE- best damn pair ever.


Gue… *melting*
ALAY!! A L A Y… Hari ini gue bertandang ke Mall dekat rumah. Jaraknya hanya 15 menit naik angkutan umum dari depan gang rumah gue. Sepanjang perjalanan, demi kerutan-kerutan yang semakin menjamur di wajah SBY, gue berhasil membuat kalimat ‘semua mata tertuju padamu’ itu menjadi nyata.  Jelas bin sangat, gue tahu tentang apa yang mereka pikirkan. Well, gue seharusnya mulai terbiasa dengan itu, sih. Tapi yah, namanya juga manusia. Ngga’ terlalu muluk, I guess, untuk sekedar minta sedikit respect. Atau paling simple—anggap aja gue ngga’ ada. Mudah kan?? Ih ada alay! Bagi gue, alay adalah sebuah panggilan kecil oleh mereka yang merasa superior dibandingkan yang lainnya. Entah karena si korban berwajah jelek mutlak, kulit terbakar, atau yang berpenampilan ekstrem seperti gue. I know, rambut gue terlalu mencolok. Warnanya merah, merah violet mirip Mulan Jameela pas jadi anggota Ratu. Hasil bleaching dengan modal seratus ribu di salon tiga petak si At*n. Namanya juga murah meriah, maka rambut gue terlihat lebih mengesankan(ancur.red) begitu ditambah keadaan rambut gue yang sebelumnya ikal-ikal seksi itu jadi 11-12 dengan sekumpulan ijuk. Terus, sneakers hitam yang gue coret-coret dengan spidol silver. Seperti remaja normal, gue hanya mengisi waktu luang saat menunggu kawan datang pas janjian dengan kegiatan menggambar.. yah di sepatu gue itu. Dari pada gue berbuat vandalisme, ya ga’? Kaki gue yang mirip kaki ayam (paha gue memang terlalu besar untuk dipasangkan dengan betis mengkel gue), soft-lense gue yang hari itu berwarna ungu, atau alasan lain yang might be the reason why they gave me such a cute nick name. Positive aja (atau karena terlalu batu), gue anggap itu merupakan sebuah sanjungan untuk suatu individu yang sudah SPEAK UP by her appearance.  ALL HAIL ALAY!!!

ALAY!!

A L A Y…

Hari ini gue bertandang ke Mall dekat rumah. Jaraknya hanya 15 menit naik angkutan umum dari depan gang rumah gue. Sepanjang perjalanan, demi kerutan-kerutan yang semakin menjamur di wajah SBY, gue berhasil membuat kalimat ‘semua mata tertuju padamu’ itu menjadi nyata. 

Jelas bin sangat, gue tahu tentang apa yang mereka pikirkan. Well, gue seharusnya mulai terbiasa dengan itu, sih. Tapi yah, namanya juga manusia. Ngga’ terlalu muluk, I guess, untuk sekedar minta sedikit respect. Atau paling simple—anggap aja gue ngga’ ada. Mudah kan??

Ih ada alay!

Bagi gue, alay adalah sebuah panggilan kecil oleh mereka yang merasa superior dibandingkan yang lainnya. Entah karena si korban berwajah jelek mutlak, kulit terbakar, atau yang berpenampilan ekstrem seperti gue.

I know, rambut gue terlalu mencolok. Warnanya merah, merah violet mirip Mulan Jameela pas jadi anggota Ratu. Hasil bleaching dengan modal seratus ribu di salon tiga petak si At*n. Namanya juga murah meriah, maka rambut gue terlihat lebih mengesankan(ancur.red) begitu ditambah keadaan rambut gue yang sebelumnya ikal-ikal seksi itu jadi 11-12 dengan sekumpulan ijuk.

Terus, sneakers hitam yang gue coret-coret dengan spidol silver. Seperti remaja normal, gue hanya mengisi waktu luang saat menunggu kawan datang pas janjian dengan kegiatan menggambar.. yah di sepatu gue itu. Dari pada gue berbuat vandalisme, ya ga’?

Kaki gue yang mirip kaki ayam (paha gue memang terlalu besar untuk dipasangkan dengan betis mengkel gue), soft-lense gue yang hari itu berwarna ungu, atau alasan lain yang might be the reason why they gave me such a cute nick name. Positive aja (atau karena terlalu batu), gue anggap itu merupakan sebuah sanjungan untuk suatu individu yang sudah SPEAK UP by her appearance. 

ALL HAIL ALAY!!!

Stupid Girl Maybe if I act like that.. Push up my bra like that.. 2010 saat malam hari, normally cloudy di awal Mei. Gue memandang langit-langit kamar yang hanya berjarak sekitar tiga meter dari lantai, sedikit menukik dan pinggiran gypsumnya berornamen kotak-kotak. Di bawah bagian yang menukik, ada dua buah lemari persegi merah muda, tempat gue melenyapkan majalah dewasa dan BF alih-alih memfungsionalkannya sebagai gudang, kemudian sedikit ke bawah, tergantung jam dinding yang berwarna hijau. Jadi komposisinya, mirip seperti sepasang mata dan sebuah hidung badut. And once again, kamar gue berukuran 3x3 meter. Kecil parah, belum lagi spaceyang dirampas oleh beberapa furniture pelengkap, seperti: lemari, meja belajar, dan tempat tidur. Plus kasur lipat si Nizam (laki-laki, kelihatannya masih relasi dari Hulk, 15 th.) yang membuat lantai kamar ngga’ nampak kecuali yang di dekat pintu. Dinding putihnya juga ditutupi beberapa poster: MJ dan Spiderman, Cast Harry Potter Seri ke-empat (bonus CINEMAGS), Daniel Radcliffe, dan Naruto. Terus raknya yang tergantung di dinding. Majalah komik Nakayoshi gue berjejer dari yang ujungnya meleber sampai yang kertasnya digerogot rayap. Ada juga yang jadi kaku setelah jatuh ke bak mandi saat gue heboh menyiram yahkautahulahyangcokelatitu. Dan karena gue adalah tipe manusia yang melow-pervertish, beberapa novel psikologis berjejer rapi. Ada juga novel Harry Potter yang English version (FYI, bokap cuma mau beliin yang versi Inggris. Bukan kemauan gue.) yang akhirnya ngga’ pernah gue baca dan membuat gue ribet-ribet harus pinjam ke teman gue, si Silitonga ,yang satu milimeter lipatan aja bisa membuat dia misuh-misuh sekitar semingguan. Selain itu, ada roman klasik, teenleet, biografi, komik: dari genre komedi romantis macam Special A ke genre mesum setipe Kimagure Orange Road. Ah, untuk yang ngga’ tahu, di situ ada tokoh yang bernama Kyousuke. Dia adalah The Luckiest Guy on Earth, imo. Coba aja baca. Hahha. …Sekarang 22:29, dan masih belum ada tanda-tanda gue harus nge-share kamar dengan si Nizam… Eh, dia masuk. Elah! Harap-harap dia ketiduran di depan TV, padahal. Stupid girl. P.S. Sfx: Stupid Girl - Pink

Stupid Girl

Maybe if I act like that..

Push up my bra like that..

2010 saat malam hari, normally cloudy di awal Mei. Gue memandang langit-langit kamar yang hanya berjarak sekitar tiga meter dari lantai, sedikit menukik dan pinggiran gypsumnya berornamen kotak-kotak. Di bawah bagian yang menukik, ada dua buah lemari persegi merah muda, tempat gue melenyapkan majalah dewasa dan BF alih-alih memfungsionalkannya sebagai gudang, kemudian sedikit ke bawah, tergantung jam dinding yang berwarna hijau. Jadi komposisinya, mirip seperti sepasang mata dan sebuah hidung badut.

And once again, kamar gue berukuran 3x3 meter. Kecil parah, belum lagi spaceyang dirampas oleh beberapa furniture pelengkap, seperti: lemari, meja belajar, dan tempat tidur. Plus kasur lipat si Nizam (laki-laki, kelihatannya masih relasi dari Hulk, 15 th.) yang membuat lantai kamar ngga’ nampak kecuali yang di dekat pintu. Dinding putihnya juga ditutupi beberapa poster: MJ dan Spiderman, Cast Harry Potter Seri ke-empat (bonus CINEMAGS), Daniel Radcliffe, dan Naruto. Terus raknya yang tergantung di dinding. Majalah komik Nakayoshi gue berjejer dari yang ujungnya meleber sampai yang kertasnya digerogot rayap. Ada juga yang jadi kaku setelah jatuh ke bak mandi saat gue heboh menyiram yahkautahulahyangcokelatitu.

Dan karena gue adalah tipe manusia yang melow-pervertish, beberapa novel psikologis berjejer rapi. Ada juga novel Harry Potter yang English version (FYI, bokap cuma mau beliin yang versi Inggris. Bukan kemauan gue.) yang akhirnya ngga’ pernah gue baca dan membuat gue ribet-ribet harus pinjam ke teman gue, si Silitonga ,yang satu milimeter lipatan aja bisa membuat dia misuh-misuh sekitar semingguan. Selain itu, ada roman klasik, teenleet, biografi, komik: dari genre komedi romantis macam Special A ke genre mesum setipe Kimagure Orange Road. Ah, untuk yang ngga’ tahu, di situ ada tokoh yang bernama Kyousuke. Dia adalah The Luckiest Guy on Earth, imo. Coba aja baca. Hahha.

…Sekarang 22:29, dan masih belum ada tanda-tanda gue harus nge-share kamar dengan si Nizam… Eh, dia masuk. Elah! Harap-harap dia ketiduran di depan TV, padahal.

Stupid girl.

P.S. Sfx: Stupid Girl - Pink

“Then.. I’ve grown up. As ripe as rose—I guess.”
“You have to do your own growing no matter how tall your grandfather was.”
Take a sprinkling of fairy dust,An angel’s single feather,Also a dash of love and care,Then mix them both together.Add a sentiment or two,A thoughtful wish or line,A touch of stardust, a sunshine ray…It’s a recipe, for a Baby Girl truly fine.

-Author Unknown-
“A baby is God’s opinion that the world should go on.”